Tampilkan postingan dengan label BACKSTABBER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BACKSTABBER. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 September 2017

Backstabber (3)

September 09, 2017 0 Comments
Alika senang dan bersyukur sekali. Ia senang karena setelah jalan-jalan berempat seminggu yang lalu, ia jadi lebih dekat dengan Hans, dan juga bersyukur karena Sella sangat membantunya, apalagi jalan-jalan kemarin itu memang sangat efektif.

Tapi justru setelah jalan-jalan, Sella sudah tidak pernah mengabari Alika soal Hans. Alika merasa agak aneh dengan perubahan sikap Sella, tapi ia selalu berusaha untuk positif thinking pada sahabatnya itu.

"Sella.. Hai," sapa Alika agak kikuk. Ia sekarang agak bingung kalau ingin mengobrol dengan Sella. Rasanya ada jarak yang sangat jauh di antara mereka. Sella menoleh sesaat, lalu melambaikan tangan pada Alika. Dan berlalu. Alika memiringkan kepalanya, ia bingung, apakah dia benar Sella? tanyanya pada diri sendiri.

•••

Bel tanda istirahat pertama sudah terdengar, tapi Alika masih belum beranjak dari kursinya. Ia belum selesai menyalin catatan dari papan tulis.
"DOOORRR!" Tiba-tiba Alika merasa seperti petir menyambar kedua bahunya. Saking terlonjaknya, bahkan pensil yang dipegang Alika terlempar. Alika segera menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan Nino sedang cengar cengir ditambah dengan wajah tanpa dosanya.
"Iiiihh Nino mah, ngagetin aja tau ga?" protes Alika.
"Maaf atuh Alika. Da Nino kan bercanda," jawab Nino sambil mengambil kursi di sebelah Alika.
"Alika, Nino mau ngomong sesuatu," ujar Nino. Alika sontak menoleh, kini wajah Nino sudah menunjukkan wajah serius, bukan lagi wajah polos seperti biasanya.

"Ngomong apa, Nino?" tanya Alika dan menghentikan kegiatannya.
"Alika yakin Sella beneran bantuin Alika buat deket sama Hans? Kok Nino liatnya justru Sella yang pdkt sama Hans?" tanya Nino hati-hati.
"Masa sih, Nino?"
"Iya, Nino sih liatnya begitu. Waktu kita pergi jalan-jalan kemarin, Nino liat Sella lagi stalking medsosnya Hans, terus senyum-senyum gitu. Terus buka-buka chatnya sama Hans. Senyum cewek yang lagi suka gitu, Ka," jawab Nino lagi. Alika sangat kaget dengan apa yang didengarnya. Rasanya Alika tidak ingin percaya. Tapi Alika sendiri bingung, siapa yang harus ia percaya?

"Nino yakin?" tanya Alika sekali lagi.
"Iya, Ka. Nino nggak bohong, mungkin nanti Alika ngobrol sendiri sama Sella," jawab Nino dengan wajah bersungguh-sungguh. Mau tidak mau, Alika mempercayai Nino, meski Nino suka bercanda, tapi Nino tidak uka berbohong dan Alika tidak melihat kebohongan di mata Nino.

•••

"Aku pulang." Alika melepaskan sepatunya, lalu menaruhnya di rak. Setelah Nino memberitahukannya soal Sella, tentu Alika kecewa. Sangat kecewa. Semuanya rasanya terlalu cepat untuknya. Baru saja seminggu yang lalu mereka jalan-jalan bersama, baru saja Alika memiliki harapan untuk bisa dekat dengan Hans.

Alika baru saja merasa semuanya berjalan lancar.. Tiba-tiba ia dikabarkan sebuah pengkhianatan. Tapi tentu saja Alika belum bisa memastikannya.

"Ah, soal Sella kukesampingkan dulu. Tidak mungkin Nino berbohong. Tidak mungkin Sella mengkhianatiku, kan?" Alika diam sejenak. Tentu saja hanya ada 1 yang benar. Apakah Nino yang berbohong? Atau Sella yang memang mengkhianati dan mengingkari janjinya untuk tidak menyukai Hans?

Semakin larut dalam pikiran, semakin Alika merasakan sakit di kepala belakangnya. Akhirnya Alika memutuskan untuk melupakan sejenak masalah ini dengan sebuah tekad, bahwa ia akan menemukan kebenarannya.

Esoknya, Alika sudah lebih bersemangat karena kemarin ia mengobrol dengan Hans lewat video call. Alika bahkan sampai ketiduran saking asyiknya mengobrol dengan Hans.

Ketika Alika melewati kelas Hans, tampak dari pintu, Sella sedang mengobrol berdua dengan Hans! Hanya berdua. Apakah yang dikatakan Nino memang benar? Rasanya Alika tidak ingin percaya. Tapi yang dilihatnya sudah seperti bukti nyata.

"Nggak, ga boleh negatif thinking sama temen sendiri, Ka. Harus positive thinking," ujar Alika pada dirinya sendiri sambil berlalu dari kelas Hans.

•••

Dan hari-hari berikutnya, menjadi semakin sulit untuk Alika. Sella jadi sering ke kelasnya, sekadar untuk melihat Hans yang sering bermain ke kelas Alika saat istirahat. Tapi Sella rasanya semakin tidak membantu Alika untuk dekat dengan Hans. Malah Sella seperti sengaja membuat jarak antara Alika dengan Hans.

Dan hari ini, mungkin adalah puncaknya.

Alika masih berkutat dengan buku catatannya. Setelah istirahat kedua, akan ada ulangan Kimia dan masih banyak yang Alika belum mengerti. Sudah beberapa kali Alika bolak-balik membuka catatan-soal-buku latihan. Begitu terus. Pasalnya, istirahat hanya 20 menit dan Alika tidak mau menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya untuk belajar. Namun, seseroang menginterupsinya belajar.

"Ka." Sebuah suara dingin menyapa indera pendengarannya, namun nadanya sama sekali bukan nada menyapa seseorang. Terpaksa Alika mengalihkan perhatiannya kepada orang yang memanggilnya. Hans! Ada apa Hans ke sini? Jarang sekali, pikir Alika sambil menatap Hans bingung.

"Ikut gua keluar sebentar, Ka. Ada yang mau gua omongin," ajak Hans, dengan nada memaksa.
"Tapi aku lagi belajar, nanti aja bisa nggak Hans?" tolak Alika dengan terpaksa, ulangan Kimia untuk saat ini lebih penting daripada Hans.
"Huft, oke. Pulang sekolah lu jangan langsung pulang ya, Ka. Gua nanti ke kelas lu begitu bel," jawab Hans lalu meninggalkan Alika. Meski lega karena Hans tidak membicarakan hal buruk padanya. Tapi akibatnya, sekarang Alika tidak bisa fokus belajar, bahkan saat ulangan Kimia, Alika sempat melamun sebentar sebelum disenggol oleh temannya untuk kembali mengerjakan ulangan.

Alika jadi sebentar-sebentar melirik jam tangan di lengan kirinya. Ia seplah-olah takut dengan waktu pulang sekolah. Sejujurnya, Alika memang takut, ia tidak tahu apa-apa tapi tiba-tiba Hans menghampirinya dengan aura dingin dan cuek. Tidak seperti Hans biasanya. Tiba-tiba suara bel tanda waktunya pulang mengagetkannya.

•••

Nino yang sedari tadi memperhatikan gelagat Alika ikut khawatir karena tak biasanya Alika terus-menerus melirik jam tangannya. Apalagi beberapa kali Alika ditegur guru karena melamun. Nino hanya khawatir pada sahabatnya itu. Tidak lebih.

"Alika, jadi pulang bareng Nino?" tanya Nino menghampiri Alika yang masih membereskan tas.

"Oh, iya jadi kok Nino. Nino bisa tungguin dulu nggak? Alika ada urusan sebentar," pinta Alika.
"Okeedeh Alika. Nino tungguin di kantin aja ya, nanti kalau Alika udah selesai, langsung ke kantin ya," jawab Nino lalu keluar kelas. Nino masih khawatir dengan perubahan sikap Alika, apalagi setelah Nino melihat Hans menghampiri Alika. Tepat setelah itulah ekspresi dan sikap Alika berubah menjadi murung.

Karena tidak yakin dan takut ada apa-apa. Nino akhirnya tidak jadi turun ke kantin. Dan tepat setelah Nino di luar kelas, Hans masuk ke kelas. Nino memutuskan untuk memata-matai Alika dan Hans. Hanya untuk memastikan Alika baik-baik saja. Nino punya firasat buruk untuk ini. Akhirnya Nino memilih untuk menguping dari balik toilet.

Sekitar 10 menit Nino menguping dari balik toilet, begitu ia mendengar langkah kaki mendekat, buru-buru Nino keluar dan lari ke kantin sebelum ketahuan.

•••

"Ka, ngomongnya di luar kelas aja," ajak Hans sambil mengamit lengan Alika.
"Oh, oke." Alika lalu mengambil tasnya dan mengikuti langkah Hans.
"Gua nggak suka sama lu, Ka. Jadi tolong berhenti buat suka sama gua," ucap Hans tiba-tiba, bahkan dengan posisi memunggungi Alika. Alika sontak kaget dengan apa yang Hans katakan. Bagaimana Hans bisa berkata demikian. Selama ini, yang tahu kalau Alika suka pada Hans hanya Sella dan Nino.
"Mak maksudnya Hans??" tanya Alika sangat bingung.
"Lu kira gua nggak tau, Ka?"
"Tapi aku aja nggak pernah nembak kamu, Hans? Kenapa kamu udah nolak aku?" tanya Alika semakin bingung. Apa saja yang Hans tahu?
"Nih," ucap Hans singkat sambil menyerahkan sepucuk surat beramplop pink.

Mata Alika seketika membulat melihat nama pengirimnya. Sella. Apa ini? Surat cinta? Alika segera membuka dan membaca isinya. Semakin banyak yang ia baca, rasanya ada yang merenas jantungnya sampai rasanya jantungnya akan pecah. Seperti ada yang menekan dadanya dan rasanya sangat sesak.

Tertulis sangat jelas kalau Sella menyukai Hans. Tapi yang membuat Alika semakin tercengang adalah tertulis kalau Sella mengkambing hitamkan Alika sebagai alasan Sella ragu menyukai Hans. Seolah Alikalah penghalang kedekatan antara Sella dan Hans. Bahkan di surat, Sella meminta Hans untuk memilih antara Sella atau Alika.

"Udah baca semuanya?" tanya Hans yang kini sudah menghadap ke arahnya. Alika mengangguk pelan lalu mengembalikan surat itu.
"Gua nggak suka sama kalian berdua, jadi please nggak usah bersaing dan berhenti buat suka sama gua. Gua nggak bakal memilih siapapun di antara kalian berdua. Maaf kalau gua kasar, Ka. Tapi ini keputusan gua," ujar Hans sambil berlalu dari hadapan Alika. Alika membalikkan tubuhnya, menatap Hans yang semakin menjauh.

Alika masih kaget dengan semua yang baru ia ketahui. Dengan cepat Alika berjalan turun. Pasti Nino sudah lama menunggunya. Saat Alika berjalan ke kantin, tampak surat pink yang sebelumnya ia baca, kini sudah berada di tong sampah. Berbaur dengan sampah-sampah lainnya. Tak dapat ditahan, air matanya jatuh. Alika cepat-cepat menghapusnya.

Begitu melihat Nino yang duduk di kursi kantin, Alika langsung menariknya. Ia tidak mau semakin banyak orang melihatnya seperti ini.
"Alika nggak apa-apa?" tanya Nino. Alika hanya mampu menganggukan kepalanya. Jika ia mengucapkan meskipun hanya sepatah kata, ia takut air matanya akan semakin banyak yang jatuh.

•••

Nino paham dengan respon Alika. Cepat-cepat Nino menyalakan motor, menunggu Alika duduk di belakangnya. Dan memacu motornya keluar sekolah. Sepanjang perjalanan, Alika diam saja. Nino hanya bisa menghela napas, betul kata firasatnya. Ini memang hal yang buruk. Nino rasaya sangat geram dan ingin marah pada Sella. Tega- teganya Sella mengingkari janjinya, bahkan mengkhianati Alika.

Nino mendengar semuanya, semuanya tanpa terkecuali. Nino tidak langsung mengantar Alika pulang. Nino malah membelokkan motornya ke minimarket dekat sekolah. Alika tidak memprotes sama sekali.
"Ka, turun dulu ya, Nino mau beli makanan," ujar Nino lalu melepas helmnya dan helm Alika, dan menarik Alika ikut masuk ke minimarket. Setelah membayar belanjaan di kasir, Nino mengajak Alika naik ke atas karena di atas ada banyak kursi untuk duduk. Semacam kafetaria. Alika hanya menurut.

"Ka, ini makan dulu," pinta Nino sambil memberikan es krim yang baru saja ia beli. Katanya, es krim bisa memperbaiki mood seseorang. "Alika boleh cerita sama Nino," ucap Nino lagi sambil menunggu Alika bercerita. Tak lama, Nino melihat air mata Alika menetes.

"Hans jahatt, Sella juga jahat! Harusnya dari awal Alika percaya sama Nino," ujar Alika di sela-sela tangisnya. Nino bisa mengerti perasaan Alika. Bahkan Nino rasanya ingin memberikan bogem mentah pada Hans dan Sella.

"Udah ya, Alika. Nggak apa-apa, semuanya udah terjadi. Alika move on ya, jangan terus bertahan sama Hans yang udah nyakitin lu. Bisa kan, Ka? Nggak apa-apa kalau lu masih mau nangis. Gua tungguin. Tapi jangan nangis lama-lama cuma karena Hans. Lu pasti dapet seseorang yang lebih baik dari Hans, suaru saat nanti," ucap Nino berusaha menghibur Alika setelah Alika menceritakan semuanya. Bahkan es krim di tangan Nino sudah habis karena memang cukup lama Nino menunggu Alika tenang dan bisa bercerita.

"Ka, mau pulang nggak?" tanya Nino setelah hampir 2 jam mereka di minimarket. Air mata Alika sudah mengering.
"Iya, ayo kita pulang aja," jawab Alika sambil tersenyum. Meski senyum Alika bukanlah senyum tulus, semacam senyum yang agak dipaksakan. Nino mengerti jika Alika masih murung. Tapi dalam hati Nino berjanji akan membuat Alika semangat dan ceria seperti dulu.

"Ka, jangan sedih lagi kayak gini ya," ucap Nino pelan saat Alika sudah sampai di rumahnya. Nino menghela napas pelan, memakai helmnya, dan memacu motornya lagi.

•••
Hans berjalan santai ke kelasnya. Seminggu sejak Hans bicara empat mata dengan Alika, Alika sudah tidak mendekatinya lagi, sesuai permintaannya. Tapi Sella satu ini, masih saja gencar mendekatinya. Apa sih sebenarnya maksud Sella? Mengganggu saja, pikir Hans lalu menaruh tasnya di kursi.

Sejujurnya ada sebersit perasaan bersalah pada Alika. Ia gadis yang baik, hanya saja Hans tidak mau cari ribut. Daripada kedua sahabat itu bermusuhan karena dirinya memilih salah satu, lebih baik ia tidak memilih siapapun di antara keduanya.

Namun, sepertinya alasan di balik keputusan Hans tidak berpengaruh pada persahabatan kedua orang itu. Buktinya saja, sebelum Hans tiba di kelas. Ia melihat Alika tampak memalingkan wajah dan berjalan menjauh saat Sella berada di dekatnya. Begitupun Sella. Ia tampak acuh tak acuh pada Alika. Mungkin, tak ada bedanya mau aku memilih salah satu atau tidak memilih sama sekali. Mereka akan tetap bermusuhan setelah mengetahui semuanya, batin Hans lalu masuk ke kelasnya.

-Fin-
.
.
.
.
.

Halo, ini mimin.. Mimin minta maaaaffff banget karena lama banget baru update part terakhir dari cerita ini. Maaf banget ya sekali lagi. Akhir-akhir ini mimin sibuk dan sering tepar. Jadi agak susah nemu waktu buat nulis apalagi ga setiap saat banjir ide.
Maaf juga kalau readers kecewa sama akhir ceritanya atau kecewa aja gitu :'( karena ga sesuai harapan.

Mimin bakal usahain supaya bisa update short love story, A.M. Diary & Kania side tepat waktu yaa..
Thank youu :) & sorry :')

Laf, Mimin.
*lopek*

Sabtu, 02 September 2017

Backstabber (2)

September 02, 2017 4 Comments
"Hai, Sell!" sapa Alika setibanya di sekolah.
"Oh, hai Ka. Gimana? Nino bisa ikutan jalan-jalan Rabu besok?" tanya Sella.
"Yep, kemarin aku telepon buat ngajak Nino. Dan dia bisa kok. Nanti kita berangkat bareng dari sekolah atau ketemuan di mall aja?" jawab Alika dan bertanya balik.
"Hmm, bareng-bareng aja deh dari sekolahnya. Biar nggak kepencar," jawab Sella sambil menaiki tangga.
"Okay Sell. Aku nggak sabar nunggu hari Rabu, hehe. Bye Sell." Alika berbelok menuju kelasnya yang tidak jauh dari kelas Hans.

Dari sela-sela pintu yang terbuka, Alika dapat melihat jelas wajah Hans yang sedang tertawa dengan teman-temannya. Alika ikut tersenyum melihatnya. Ia suka melihat senyum Hans.

"Ah, rasanya makin nggak sabar nunggu hari Rabu nanti," ucap Alika pada diri sendiri dengan senyum lebar mengembang di wajahnya. Senyum Alika makin melebar saat meliht Nino di depan kelas.
Nino memang sahabatnya sejak lama. Alika langsung bergegas menghampiri Nino, memastikan rencana mereka Rabu nanti.

"Nino! Eh Nino!" sapa Alika agak berteriak karena situasi ramai pagi ini di sekolahnya.
"Eh, hai Ka. Kenapa nih?" sapa Nino dengan senyum yang selalu menghiasi wajah Nino. Ya, senyum yang sama yang membuat Sella menyukai sahabat Alika ini.
"Cuman mau mastiin aja buat Rabu nanti, fix bisa kan, No?" tanya Alika dengan penuh antusias.
"Ah, nggak jadi ah. Nino capek, mau tidur aja besok mah," jawab Nino sambil memasang wajah lelah.
"Ihhh, Nino yang bener?! Nanti aku gimana? Gajadi dong ketemu sama Hansnyaa?! Susah tau bikin jadwal ketemu sama Hans," respon Alika gusar. Tentu saja akan jadi sangat gawat kalau Nino tidak jadi datang. Bisa-bisa rencana untuk pdkt dengan Hans ikutan gagal.

"Hahahhaha, bercanda kok Alika. Tenang aja, Rabu Nino bisa kok. Santai aja," jawab Nino akhirnya. Alika menghembuskan napas lega. Kalau sampai yang kali ini batal, Alika tidak tahu apakah akan datang kesempatan kedua. Sebagai balasan atas kejahilan Nino, Alika menghadiahkan Nino pukulan bertubi-tubi.
"Aw!! Sakit Ka, sakit ih!" erang Nino karena Alika memukulnya dengan gemas plus tenaga.
"Habisnya Nino ngeselin, nanti kalau gagal gimana?!" jawab Alika dengan masih memukul Nino, namun kali ini lebih pelan.

"Iya Ka. Lagian gw kan ga jahat sampe segitunya. Gw pasti bantuin lu juga buat deket sama Hans kok," ujar Nino menenangkan Alika sekaligus menahan pukulan Alika selanjutnya.
"Huft, okedeh Nino. Rabu aku nebeng ya, heheh," pinta Alika sambil menyunggingkan senyumnya.
"Iyah, kalem aja. Udah biasa Nino mah."
"Siap deh Nino," sahut Alika dengan semangat sambil mengacungkan ibu jarinya.
Nino ikut tertawa melihat tingkah Alika. Alika tertawa karena menurutnya tawa Nino lucu dan khas.

Tanpa sadar, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua.

•••

Saking semangatnya Alika hari ini, ia sampai-sampai sudah menyelesaikan tugas kimia yang harusnya untuk minggu depan. Mumpung moodnya sangat bagus, pikirnya.

Dan, hari yang dinanti-nantinya sudah tiba! Alika sangat bersemangat. Ia bahkan memilah-milah baju untuk pergi ke mall hari ini. Alika memilih baju terbagus yang ia miliki untuk hari ini.

Saking semangatnya Alika menunggu bel tanda pulang sekolah berbunyi, Alika hari ini seperti cacing kepanasan. Dan yang paling menyadarinya tentu saja Nino.

"Ka, kenapa sih lu hari ini? Semangat banget kayaknya, sampe kayak cacing kepanasan gitu," komentar Nino gemas melihat Alika hari ini. Kalau saja menyiramkan air agar si cacing kepanasan sebelahnya ini bisa membuat Alika menjadi lebih kalem, tentu Nino sudah melakukannya sedari tadi.
"Hehe, maaf ya Nino, habisnya aku semangat banget hari ini," jawab Alika masih dengan wajah berseri-seri.
"Yaudah deh, tapi jangan hiperaktif dulu, Nino daritadi sakit otak liat Alika kayak gitu," jawab Nino lagi sambil mendengarkan penjelasan tentang sel tumbuhan.
"Oke deh, siap Nino," sahut Alika patuh. Memang Alika kangsung diam, tapi tangannya tidak. Alika beralih memilih menggambar doodle di buku catatan biologinya.

Akhirnya, seluruh pelajaran hari itu selesai. Alika langsung ngacir ke toilet untuk ganti baju. Sebelum Alika prgi ke toilet, Nino mencegatnya.
"Nino tungguim di parkiran ya. Jangan lama ya, Ka," ujar Nino.
"Siap Bos," jawab Alika sambil mengacungkan jempolnya. Lalu kembali ngacir ke toilet. Alika dan Sella sudah janjian untuk bertemu di kantin setelah pulang sekolah, baru pergi bersama ke mall. Alika bercermin sebentar, sekadar merapikan rambutnya yang agak acak-acakan karena diacak-acak oleh Nino.

Sayup-sayup, Alika mendengar suara Hans. Ya benar, itu suara Hans! Naru saja Alika ingin keluar dan menyapa Hans, tiba-tiba ia mendengar suara lain. Suara perempuan. Alika mempertajam pendengarannya, karena suara perempuan iyu kecil sekali. Tiba-tiba, mata Alika terbelalak. Ia kenal suara itu.

Suara Sella. Tapi Alika tidak yakin, Alika langsung mengintip sedikit. Benar. Itu suara Sella. Tak lama kemudian, Alika mendengar suara mereka berdua. Sella dan Hans tertawa bersama. Tiba-tiba saja, Alika merasakan panas di hatinya. Tawa Sella dan Hans terdengar berbeda, bukan tawa seperti teman biasa. Tawa ini tidak biasa, tawa seperti teman yang sudah sangat akrab?

Alika langsung bersandar pada tembok. Ia langsung merasa lemas.
"Ah, nggak boleh negatif thinking. Pasti Sella memang dekat karena ingin membantuku dekat juga dengan Hans," ucap Alika pada diri sendiri. Sekadar mendinginkan hatinya yang masih panas. Setelah Alika mendengar langkah kaki menjauh, Alika keluar dari toilet. Menghampiri Nino.

"Nino, kita tungguin Hans sama Sella sebentar ya," ujar Alika saat menemukan Nino di tempat parkir. Nino menganggukan kepalanya lalu kembali fokus pada game yang dimainkannya.

"Hai, Ka!" tiba-tiba terdengar suara Sella menyapanya. Alika menoleh. Ia menemukan Hans dan Sella berjalan mendekati mereka berdua.

"Hai, Sell. Jadi perginya gimana nih? Aku sama siapa?" tanya Alika penuh harap. Ia sangat berharap bisa dibonceng Hans. Sekali saja.
"Nino sama Sella aja, Alika sama Hans perginya," usul Nino tiba-tiba. Alika menoleh bingung ke arah Nino, Nino langsung mengedipkan sebelah matanya. Alika paham maksud Nino, dan tanpa disangka, Hans pun menyetujui usul Nino. Ini akan jadi hari terbaik dalam hidupku, batin Alika dalam hati dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Selama perjalanan ke mall, Alika sangat gugup. Apalagi ia dibonceng Hans, ia dibonceng Hans! Saking gugupnya, sampai-sampai saat Hans memanggilnya Alika tidak mendengarnya.
"Ka," panggil Hans. Alika tetap tidak menyahut. "Ehm, Kaa?" panggil Hans sekali lagi.
"Eh, iya, kenapa Hans?" sahut Alika akhirnya.
"Haha, nggak.. Tadinya gue kira lu tidur gitu."
"Oh, nggak kok. Hehe," sahut Alika gugup. Pipinya sedikit memerah.
"Oh, hahaha.. Gausah canggung gitu sama gue, Ka. Kalem aja."
"Okeydeh, Hans."

Pembicaraan canggung mereka terus berlanjut selama perjalanan. Alika tidak menyangka tentu saja. Ia tidak menyangka kalau ngobrol dengan Hans akan semenyenangkan ini.

•••

Sella agak sebal sekaligus senang dengan usul Nino. Ia sebal karena dengan begitu, tentu Alika akan mengobrol dengan Hans, padahal pembicaraan seru mereka berdua masih menggantung. Tapi Sella juga senang karena bisa dibonceng Nino. Kesempatan sekali seumur hidupnya.

Sella memilih untuk menikmati hari ini, dan melupakan hal yang membuatnya sebal. Ia cukup senamg mengobrol dengan Nino. Memang benar Nino punya kharisma untuk disukai semua orang. Nino memang orang yang menyenangkan. Hanya saja, Sella merasa Nino tidak terlalu senang dengannya. Sedari tadi, hanya Sella yang berusaha mencari topik untuk mengobrol. Nino hanya menyahutinya.

"Ehm, Nino. Menurut kamu, Alika orangnya kayak apa?" tanya Sella membuka pembicaraan.
"Alika orangnya baik, haha.. Baik banget malah ke Nino mah," jawab Nino dengan tatapan mata fokus ke jalanan yang mereka lalui.
"Ouwh, begitu ya," respon Sella sambil menoleh ke kanan. Alika dan Hans tampak sedang tertawa bersama. Bahkan Hans menoleh ke belakang. Melihatnya, Sella langsung merasa sebal lagi.
"Kenapa, Sell?" tanya Nino menyadari perubahan ekspresi wajah Sella.
"Oh, nggak kok. Gapapa kok, Nino," jawab Sella dengan mata masih memperhatikan Alika dan Hans.
"Oh, yaudah deh. Eh, Sell. Udah mau nyampe nih," ujar Nino sambil membelokkan motornya ke arah parkir masuk. Setelah mengambil karcis dan menitipkan helm, mereka segera menyusul Alika dan Hans ke dalam mall.

•••

"Wah, udah mau sampe nih," celetuk Alika saat melihat akrilik warna-warni bertuliskan festival city link.
"Oh iyah. Ka, nanti tolong ambilin karcisnya ya," pinta Hans.
"Siap Hans," jawab Alika senang. Ini akan menjadi hari yang menyenangkan.

Seusai memarkirkan motor, Alika dan Hans masuk ke dalam mall. Sekalian menunggu Nino dan Sella yang tertinggal di belakang karena macet.

"Ka, laper sama haus nih gue, jajan bentar yah," ujar Hans sambil berjalan.
"Oh iya, sekalian beli snack aja kalau gitu, kan nanti kita mau nonton," usul Alika sambil menyusul Hans.
"Oh iya bener juga. Ayo kalau gitu."

Alika benar-benar menikmati waktunya bersama Hans. Rasanya seperti kencan. Yaa, meski Alika tahu bahwa ini bukan kencan, tapi Alika tetap sangat senang dan menikmatinya. Tak lama, handphone Alika berdering, tanda telepon masuk. Alika cepat-cepat mengangkatnya.

"Halo."
"Ka, lu di mana? Gue sama Sella udah nyampe nih," ujar Nino melalui panggilan telepon.
"Aku sama Hans di supermarket lantai bawah nih, beli snack buat nonton nanti. Kalian ke bioskop duluan aja, sekalian beli tiket," jawab Alika sambil menunggu di kasir. Hans hanya memandangnya sebentar, lalu mengeluarkan dompet dan membayar belanjaan mereka.

Alika baru saja hendak mengeluarkan uang untuk udunan membayar belanjaan dengan handphone yang ia jepit antara telinga dan bahunya, namun Hans mencegahnya lalu membayar semuanya. Alika hanya memandang Hans bingung. Namun akhirnya ia kembali fokus dengan panggilan teleponnya yang belum berakhir.
"Eh, iya. Oke deh Nino. Sebentar lagi aku sama Hans naik, ya. Tungguin sebentar aja," jawab Alika lagi lalu memutuskan panggilan telepon.
"Ayo, Ka," ajak Hans dengan tangannya yang penuh dengan kantong plastik.
"Eh, sini aku bantu bawain, Hans," tawar Alika.
"Nggak, gausah Ka. Nanti lu bantuin mencet tombol lift aja," tolak Hans lalu memamerkan senyumnya. Alika langsung menurut dan berjalan duluan.

Setibanya di atas, Alika langsung menemukan Sella dan Nino yang sudah memegang 4 tiket.
"Maaf ya lama. Filmnya mulai jam berapa?" tanya Hans.
"Masih setengah jam lagi, mending kita duduk dulu aja di meja situ," jawab Sella dan menunjuk meja dan sofa yang masih kosong tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tanpa menyahut, Hans langsung ngacir ke meja yang dimaksud Sella dan menaruh semua belanjaan mereka di atas meja.

Sella cepat-cepat menyusul Hans dan duduk di sampingnya. Alika hanya memandangnya dengan heran. Lalu mengambik kursi di seberang Hans. Mereka mengobrol sambil menunggu film dimulai. Hanya saja, Alika merasa Sella mendominasi percakapan mereka. Bahkan Alika hampir tidak mengobrol dengan Hans. Dan akhirnya Alika hanya mengobrol dengan Nino.
"Bagaimana kalau kursi di bioskop kita undi?" usul Hans tiba-tiba. Sella tampak kaget dengan usul Hans, namun menyetujuinya. Tentu Alika dan Nino ikut menyetujuinya.

Setelah Hans merobek 4 tiket yang sebelumnya menyambung, Hans membalikkan tiket itu, mengocoknya lalu mereka harus mengambilnya dengan mata tertutup. Alika antusias mengambil tiket di hadapannya.

"Semoga supaya aku duduk dekat Hans. Tuhan, kabulkan doaku yang satu ini," rapal Alika dalam hati. Alika perlahan membuka matanya, lalu membalikkan tiket yang ia dapat. Rasanya jantungnya berdegup sangat kencang. Ia gugup, tetapi juga antusias.

E3, itulah kursi yang akan Alika duduki di bioskop.
"Lu dapet berapa, Ka?" tanya Nino sambil melongokkan kepalanya gar bisa melihat tiket Alika.
"E3, Nino," jawab Alika sambil menunggu Hans mengatakan nomor kursinya.
"Nino di E2, berarti sebelahan sama Alika," ucap Nino memberitahu, bahkan Alika tidak menanyakannya. Alika hanya penasaran dengan nomor kursi Hans. Itu saja.

"Gue dapet E4, nih," ucap Hans akhirnya. Akhirnya, hal yang ingin Alika dengar terucap oleh Hans. Tanpa sadar, Alika tersenyum bahkan pipinya memerah saat mendengar perkataan Hans. Namun tanpa ia sadari juga, raut wajah Sella berubah. Menjadi raut wajah tidak senang.

Sepanjang film berlangsung, Alika sangat menikmatinya. Beberapa kali Hans berkomentar lucu soal filmnya. Ah, memang hari ini adalah hari yang baik, batin Alika sambil tersenyum senang.

•••

Tentu saja Sella tidak senang mendengar usul Hans. Usul macam apa itu? Mengundi kursi di bioskop? Bisa-bisa ia akan duduk jauh dari Hans. Sudah cukup Alika dibonceng Hans. Sudah cukup Alika bercanda tawa dengan Hans semantara Nino tidak mengacuhkannya. Sudah cukup untuk hari ini! Ia tidak tahan dicuekin terus menerus seperti ini!

Sella tidak menikmati filmnya. Meskipun film yang mereka pilih adalah film komedi, tetap tidak mampu membuat Sella tertawa. Ia hanya diam cemberut. Apalagi saat melirik ke arah Hans. Hans, Alika, dan Nino sedang menertawakan adegan film yang ditonton, bahkan Hans berkomentar lagi sehingga tawa mereka makin pecah.

Cukup sudah. Setelah ini, Hans tidak boleh fokus padamu lagi, Alika. Lihat saja!

To be continued..

Ps from admin : maaf yaaa semua.. Kemarin" sempet sibuk karena ada kegiatan sekolah, jadi baru bisa lanjutin.. Tetep sabar nunggu part 3nya yaaahhh.. Love you all <3

Ending-nya nanti gimana yah?
Comment below :)

Jumat, 25 Agustus 2017

Backstabber (1)

Agustus 25, 2017 4 Comments
"Janji yaa? Janji bakal bantuin aku deket sama dia?" tanya Alika penuh antusias.
"Iyaa, Ka. Aku janji," jawab Sella yang akan segera menjadi mak comblang antara Alika dengan Hans.
"Kamu janji nggak bakal suka sama Hans? Kan biasanya justru mak comblang yang suka sama yang dicomblanginnya," tanya Alika sekali lagi. Menyakinkan diri.
"Ka, aku janji. Aku janji akan bantuin kamu supaya deket sama dia, dan aku janji nggak akan suka sama dia, kan aku udah suka sama Nino. Nino selalu di hati kok," jawab Sella sekali lagi. Meyakinkan sahabatnya itu. Seketika, wajah muram Alika berubah dan menampakan segurat senyum lega.

•••

"Gimana nih? Kamu udah ada kabar terbaru soal Hans ga?" tanya Alika setelah 4 hari yang lalu Sella berjanji akan menjadi mak comblang untuknya.
"Hmm, kemarin aku chat sih, ya isinya gitu aja, Ka. Lagian kan nggak mungkin langsung terbuka? Aku juga masih mikirin kapan bisa pertemuin kalian. Harus perfect timing, " sahut Sella dengan tatapan mata yang fokus pada layar smartphonenya.
"Ouwh, hmm.. Okeedeh, Sell. Makasihh yaa," jawab Alika senang lalu keluar kelas sambil menggumamkan lagu kesukaannya.
"Huft, kapan ya aku bisa ngedeketin Alika sama Hans?"
Sella berjalan keluar kelas, ke kelas Hans. Matanya menangkap Nino bercanda dengan cewek lain.
Tiba-tiba Sella merasa dadanya sakit. Rasanya seperti ada sabit yang menancap di hatinya, lalu diseret tanpa diangkat. Menyebabkan luka menganga di hatinya.

•••

Esoknya, saat Alika baru datang ke sekolah. Ia kaget dengan apa yang dilihatnya. Hans! Itu Hans! Hans kini sedang berada di dekat mejanya. Deg deg deg. Alika merasa jantungnya berdegup semakin kencang seiring dengan langkahnya mendekati Hans.

Ia takut jika tiba-tiba salah tingkah, lalu melakukan sesuatu yang memalukan. Atau mungkin hal lain yang lebih parah?

Sebelum semua pikirannya selesai, tiba-tiba terdengar suara gedebug yang keras. Alika terlalu sibuk sendiri dengan pikirannya, hingga ia tidak sadar kalau tali sepatunya daritadi terlepas. Dan tentu saja, Alika jatuh di depan Hans. Suara tawa mendadak meledak di kelas. Bahkan Hans ikut tertawa terbahak-bahak sebelum akhirnya ia mengulurkan tangan untuk membantu Alika berdiri.

"Duhhh, bodoh banget. Bodoh banget pake jatoh segala," gumam Alika dalam hati sambil menerima uluran tangan Hans, lalu langsung keluar kelas lagi. Alika malu, hal yang paling ia takutkan terjadi. Jatuh di depan Hans, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti. Ia memperhatikan tangan kanannya, tangan yang tadi menerima uluran tangan Hans. Wajah Alika yang tadinya merah karena malu, sekarang semakin merah karena bahagia.

Bagaimana tidak, tadi Hans mengulurkan tangannya untuk membantu Alika!! Oh Tuhan! Ini momen langka! Alika segera masuk ke toilet agar wajah merahnya tidak terlihat semakin banyak orang.

"Ka, kenapa mukanya merah gitu?" tanya Sella yang ternyata sedang berada di toilet juga.
"Eh, Sell. Aku baru liat kalau ada kamu. Hehe, iya. Tadi aku jatoh di depan Hans, terus dia ngakak. Tapi akhirnya ngulurin tangan buat nolong aku, Sell!!" jawab Alika dengan penuh semangat. Tak sampai sedetik kemudian, ia langsung membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. Alika lupa kalau bukan hanya mereka berdua yang ada di toilet ini.

Alika cepat-cepat menarik Sella keluar dari toilet. Lalu menceritakan lagi dengan semangat kronologis kejadian barusan. Tanpa ia sadari, ekspresi wajah Sella berubah.

•••

Sella berjalan ke kelasnya dengan sangat lambat. Ia dilema sekarang. Ia sudah berjanji pada Alika kalau ia tidak akan suka sama Hans. Tapi rasanya, ia sudah mengingkari janjinya. Tak bisa disangkal, Hans memang punya karisma yang unik. Dan Sella menyukai karisma Hans.

Ia merasa bingung sekarang, apalagi setelah kemarin chat dengan Hans dan chatnya dibalas dengan ramah. Apalagi saat Sella hampir menyerah untuk menyukai Nino, Hans menghiburnya. Bagaimana ia tidak tambah jatuh hati dengan Hans. Rasanya ia ingin egois. Ingin rasanya ia yang dekat dengan Hans, dan melupakan janjinya dengan Alika untuk membantunya mendekati Hans.

Secara logika, tentu ia yang mempunyai kesempatan lebih besar untuk dekat dengan Hans. Toh, keputusan untuk suka dengan siapa ada di tangannya bukan? Dan tidak ada yang tahu, apakah nanti Hans akan memilihnya atau malah memilih Alika. Ya. Ia memilih untuk tetap menyukai Hans, dan menyembunyikan kebenaran itu dari Alika. Setidaknya untuk sekarang ini.

Sella sadar ia sudah berjalan sangat lambat. Ia menegakkan kepalanya yang tadinya tertunduk, dan berjalan dengan langkah lebih cepat dari sebelumnya.

•••

Alika bingung. Apakah ia harus chat Hans duluan. Hanya sekedar basa basi mungkin tidak akan menjadi masalah. Hanya saja, ia takut. Alika takut akan merespon chat Alika dengan cuek. Atau malah chatnya tidak akan dibalas?

"Huft, beranikan diri, Ka. Jangan cuma nunggu kesempatan deket dari Sella. Harus bikin kesempatan sendiri!" ucap Alika pada dirinya sendiri, lalu langsung duduk dan mengambil handphonenya yang tergeletak di meja belajarnya.

Alika kini menatap bingung layar hpnya. Apa yang harus ia ketik? Sudah 5 menit Alika masih belum mengirim pesan apapun pada Hans.  Mengetik sesuatu, kemudian menghapusnya lagi karena ia merasa tidak pas. Begitu terus selama 5 menit.

"Ya ampun, mau nyapa doang susahnya minta ampun," keluh Alika sambil menghempaskan lagi tubuhnya ke kasur. "Atau mending aku tanya Sella aja gitu yah?" Akhirnya Alika menekan tombol back dan mencari kontak Sella. Lalu memilih fitur "telepon".

Tuuuuttt... Tuuuuutt..  Tuuuuuttt..
Sudah 1 menit Alika menunggu panggilan teleponnya diangkat. Tapi ternyata sia-sia. Sella tidak mengangkat teleponnya. Aneh. Biasanya Sella selalu mengangkat telepon dari Alika. Mungkin ia sedang sibuk, batin Alika.

Tak lama, handphone Alika berdering. Dari Sella.
"Ka, kenapa nelpon?" terdengar suara Sella dari seberang.
"Oh, tadinya aku pengen coba chat Hans duluan, tapi nggak jadi, jadinya aku mau nelpon kamu, tapi nggak diangkat," jawab Alika.
"Oh, begitu. Tadi Hans ke rumah aku, hpku ketinggalan di kamar," terang Sella dengan nada yang tak biasa.
"Wah? Hans ke rumah kamu? Ngapainn Sell??" tanya Alika. Ia merasa sedikit cemburu tentu saja. Tapi Alika juga penasaran apa yang dilakukan Hans sampai ke rumah Sella.

"Dia cuman mau ngambil buku yang mau dia pinjem kok, Ka. Aku juga ngajak dia jalan-jalan. Sekalian bikin kalian ketemu."
"Wahh? Bagus Sell! Kamu hebat deh. Aku perlu ajak Nino nggak? Supaya nanti nggak ada yang jadi obat nyamuk? Sekalian kamu juga bisa pdkt sama Nino, kan?" jawab Alika dengan penuh semangat. Ia sangat senang. Dan tidak sabar kapan hari ia dan Hans bisa jalan bareng, meski banyakan. Tapi Alika tetap senang.
"Boleh tuh, Ka. Hari Rabu nanti, pulang sekolah ya, ke mall deket sekolah," jawab Sella.
"Siap deh, Sell!! Aku jadi nggak sabar, aku bakal pastiin Nino ikut kok! Bye, Sell!"

Alika menutup telepon. Ah, Rabu nanti. Apakah akan jadi hari paling membahagiakan yang akan selalu kuingat, atau malah akan jadi hari yang selalu ingin aku lupakan?
Aku tidak tahu jawabannya.

To be continued...
.
.
Story : made by admin - request from our beloved reader ❤
Want to req story for "Short Love Story" or "A.M. Diary"?? Please DM on instagram : @bellareginaa_ (fast respon) or email to : bellareginaprasetjia786@gmail.com (slow respon)